Senin, 09 September 2013

MEMBACA MENURUT STRUKTUR BUKU

Apa kabar pembaca sekalian? Saya berharap anda sudah mencoba prinsip-prinsip yang diulas di blog ini. Dua tulisan saya terakhir menguraikan teknik  “membaca kalimat pertama alinea” dan “membaca hanya kata yang perlu”.  

Mungkin pada awal mencoba, ada perasaan agak asing yang muncul karena baru pertama kali mempraktekkan. Tapi tidak mengapa. Cobalah beberapa kali lagi, sampai terbiasa. Maka keterampilan anda membaca secara efektif meningkat pesat.

Bila anda sudah menguasai kedua teknik di atas itu, maka anda sudah siap mencoba teknik yang ketiga yaitu “membaca buku  menurut struktur buku”.  

Sebuah buku selalu dibagi oleh penulis menjadi beberapa bab. Lalu, sebuah bab dibagi lagi menjadi beberapa sub-bab. Kemudian, sebuah sub-bab dibagi lagi menjadi beberapa alinea yang dibangun dari beberapa kalimat. Susunan inilah yang saya sebut sebagai struktur buku.

Mengapa penulis buku menggunakan skema seperti ini? Alasannya sederhana: karena ingin menjabarkan pemikirannya kepada pembaca secara sistematis dan rinci sehingga pembaca dapat paham dengan mudah.

Untuk membaca menurut struktur buku, kita harus berani mengaplikasikan prinsip yang saya pernah singgung dalam artikel terdahulu: penulis menambah kata agar jelas, pembaca melewati kata bila sudah jelas.

Pada saat mulai membaca sebuah buku, praktekkan:  

1. Tidak semua kata dalam sebuah kalimat harus dibaca agar kita mengerti kalimat itu.  Ini sudah saya uraikan di blog ini tertanggal 4 September 2013.

2. Tidak semua kalimat dalam sebuah alinea harus dibaca agar kita mengerti alinea itu.  Kemungkinan besar kita sudah cukup mengerti dengan hanya membaca kalimat utama dan 1 – 2 kalimat penjelas. Tidak perlu setiap kalimat dalam paragraf dibaca. Teknik ini saya uraikan di blog ini tanggal 25 Agustus 2013.

3. Tidak semua alinea dalam sebuah sub-bab perlu kita baca. Bila kita sudah memahami inti dari sebuah sub-bab, kita dapat melewati beberapa alinea.

4. Tidak semua sub-bab perlu dibaca. Bisa karena kita sudah paham atau memang kurang relevan. Jadi, kita bisa lewati tanpa membacanya.

5. Tidak semua bab dalam sebuah buku kita perlu baca untuk kita memahami buku itu. Banyak orang berpikir bahwa semua bab dalam sebuah buku harus dibaca agar dapat dikatakan sudah selesai membaca buku itu. Aturan dari mana itu? Bila bab itu susah dimengerti (banyak penulis memang payah dalam menulis), atau tidak relevan/tidak penting bagi saya, atau saya sudah mengerti mengapa saya harus bersusah payah menyelesaikan bab itu? Tinggalkan saja. Dan jangan kuatir, anda tetap sudah “selesai” membaca buku.  


Savvy? 

Rabu, 04 September 2013

BACALAH HANYA KATA YANG PERLU

Mungkin anda sedikit bingung dengan judul di atas, tapi anda tidak salah membaca. “Bukankah setiap kata itu perlu dibaca? Kalau tidak, bagaimana kita bisa mengerti?” Demikian protes yang biasa dikatakan orang pada saat pertama kali mendengar teknik ini.

Dalam sebuah kalimat, banyak terdapat kata penting, yang bila dihilangkan akan mengaburkan atau meniadakan arti. Tetapi, ada  banyak kata dalam sebuah kalimat yang dapat kita lewati dengan tetap memahami maksud kalimat itu. 
Teknik ini lahir dari prinsip sederhana: seorang penulis menambah kata agar jelas, sedangkan pembaca melewati kata bila sudah jelas.  Jadi, pada  saat membaca sebuah tulisan, lewati saja kata yang tidak perlu, lebih – lebih bila anda sudah memahami maksud si penulis.

Saya beri contoh. Paragraf berikut berasal dari tulisan yang tersaji dalam blog ini dengan judul “Pola Pikir yang Benar dalam Membaca”. Silakan anda membaca.

Seorang penulis menambah kata agar tulisannya  jelas dibaca. Seorang pembaca harus mengambil prinsip kebalikannya : tidak usah membaca kata bila ide tulisan sudah jelas.
Seorang penulis mempunyai ide, lalu dia menghidangkan ide kepada pembaca dengan menggunakan kata-kata (sama seperti saya saat ini sedang menyusun kata-kata agar pembaca mudah mengerti ide saya). Sebuah tulisan adalah  rangkaian kata – kata yang menjadi “kendaraan” si penulis menyajikan ide. Nah, bila ide sudah kita mengerti, maka kita tidak memerlukan “kendaraan’ itu lagi.  Kita tidak perlu membaca semua kata yang dihidangkan oleh penulis. (87 kata)
Sekarang, saya coret kata-kata yang dapat dilewati alias tidak perlu dibaca, namun pembaca mampu menangkap makna semula.  Bacalah kata yang tidak dicoret:

Seorang penulis menambah kata agar tulisannya  jelas dibaca. Seorang pembaca harus mengambil prinsip kebalikannya : tidak usah membaca kata bila ide tulisan sudah jelas.
Seorang penulis mempunyai ide, lalu dia menghidangkan ide kepada pembaca dengan menggunakan kata-kata (sama seperti saya saat ini sedang menyusun kata-kata agar pembaca mudah mengerti ide saya). Sebuah tulisan adalah  rangkaian kata – kata yang menjadi “kendaraan” si penulis menyajikan ide. Nah, bila ide sudah kita mengerti, maka kita tidak memerlukan “kendaraan’ itu lagi.  Kita tidak perlu membaca semua kata yang dihidangkan oleh penulis.  (39 kata dicoret – atau sekitar 40%).
Bagaimana? Anda tetap dapat mengerti bukan?  
Anda lihat, ada sekitar 40% kata yang dapat anda lewati dengan tetap dapat mengerti. Kedengaran berlebihan bagi anda? Tidak juga.
Persentase ini memang tidak baku, berbeda – beda pada setiap buku. Namun kita dapat menarik kesimpulan yang sama: tidak perlu membaca setiap kata yang disajikan oleh penulis, dan jumlah kata yang dapat dilewati mencapai persentase yang besar.
Apa keuntungan teknik ini bagi anda? Katakanlah, jumlah kata yang benar – benar perlu dibaca dalam sebuah buku adalah 70% (Saya tidak mengatakan 60%, karena mungkin anda masih tidak yakin). Dengan melewati 30% kata, ada penghematan waktu membaca sebesar 30%. Sebuah buku yang diselesaikan dalam waktu katakan 3 hari, sekarang dapat anda selesaikan dalam waktu 2 hari saja.

Penghematan yang besar bukan? Happy and fun reading! 

Minggu, 25 Agustus 2013

TIDAK PERNAH SELESAI MEMBACA BUKU ? COBALAH PRINSIP INI!

Dari pengalaman saya melatih Membaca Efektif, kebanyakan peserta mengalami peristiwa tidak pernah menyelesaikan buku yang dibaca. Hal ini menyebabkan perasaan yang buruk lainnya:
-         Menjadi malas membaca buku
-         Beranggapan membaca itu sulit (tentu saja ini tidak benar!)
-         Ada perasaan “ngeri” dengan buku
-         Dan perasaan sejenis lainnya.

Berikut ada satu prinsip yang dapat anda praktekkan agar mempunyai pengalaman yang positif yaitu menyelesaikan buku yang dibaca. Prinsip ini disebut: hanya membaca kalimat utama pada setiap alinea.

Apa itu alinea?
Alinea merupakan kumpulan kalimat yang menjelaskan sebuah tema. Biasanya dimulai dengan bagian yang agak menjorok ke dalam. Alinea terdiri dari sebuah kalimat utama dan beberapa kalimat pendukung/ penjelas.
Pada kalimat utama inilah penulis menuangkan ide utama alinea tersebut. Lalu ia menambah beberapa kalimat pendukung lagi agar pembaca  semakin memahami tema alinea tsb.
Sebagai pembaca, kita tidak perlu membaca seluruh kalimat penjelas. Bila kita sudah paham maksud penulis dengan membaca kalimat utama saja, mengapa harus repot-repot membaca kalimat pendukungnya? Itulah yang membuat kita lebih lama membaca namun tidak menambah arti apa apa. Dan membuat kita tidak selesai - selesai membaca.
Di sini kita harus cerdik dan bertindak: lompati saja kalimat – kalimat pendukung bila kita sudah membaca dan memahami kalimat utama.  

Dimana letak kalimat utama?
Kebanyakan penulis meletakkan kalimat utama sebagai kalimat pertama alinea. Bisa saja ia menaruh kalimat utama pada tengah atau akhir alinea. Tapi kebanyakan pada awal alinea.

Nah, sekarang pembaca semakin jelas: bacalah kalimat-kalimat pertama dalam sebuah alinea, karena disitulah ide utama berada. Lewati saja kalimat – kalimat lainnya.  Mudah bukan?

Saya persilakan pembaca melakukan percobaan.  Ambillah buku dengan ketebalan tipis sampai sedang. Tema bebas. Buku dengan tema self-help atau manajemen praktis atau motivasi akan sangat baik. Sebaiknya bukan novel, karena terlalu banyak percakapan.
Lalu mulailah membaca hanya kalimat-kalimat pertama saja. Ingat, ini percobaan. Targetnya adalah menyelesaikan buku dengan membaca kalimat pertama bukan untuk mengerti. Jadi, tinggalkan ketakutan “nanti saya tidak mengerti”. Target untuk mengerti hanya jadi beban.  Jadi katakan pada diri anda sendiri, “target saya adalah membaca kalimat pertama saja!”.

Pada akhir buku, anda akan terkejut, ternyata dengan hanya membaca kalimat - kalimat pertama anda mencapai hasil:
1.      Buku selesai dibaca
2.      Dan, sebagai bonusnya: anda paham ide si penulis!

Savvy?  

Oh ya, bila anda sudah menyelesaikan percobaan ini¸ dan ingin mendiskusikannya dengan saya, silakan kirimkan email ke: purnamasetiawan2007@gmail.com

Selasa, 25 September 2012

POLA PIKIR MEMBACA EFEKTIF


Pada tulisan sebelumnya dibahas pola pikir membaca yang salah yang kita warisi sejak kita kecil.
Sekarang, pembaca tentu ingin tahu, apa pola pikir membaca yang benar?  Beberapa diantaranya :
1.       Pembaca yang efektif mempunyai ragam kecepatan sesuai dengan ragam bahan bacaan dan ragam tujuan membaca.
Kebanyakan orang membaca dengan kecepatan yang sama untuk semua bahan bacaan.   
Padahal ada banyak jenis bahan bacaan: novel, buku pelajaran, surat kabar, surat kontrak, dokumen perusahaan, buku untuk menambah pengetahuan, tabloid, majalah dsb. Jenis bahan bacaan yang berbeda seharusnya dibaca dengan kecepatan yang berbeda pula. Idealnya, kita membaca surat kabar lebih cepat dari pada membaca surat kontrak kerja. Bahan bacaan  surat kabar tidaklah "seberat" bahan yang tertera dalam sebuah kontrak kerja.  Resiko salah membaca surat kabar juga lebih kecil, ketimbang salah membaca kontrak yang akibatnya bisa fatal.

Juga, bagi seorang mahasiswa misalnya, membaca textbook dengan tujuan memahami mata kuliah, tentu berbeda dengan kecepatan membaca tabloid olahraga dengan tujuan keingintahuan saja.  

2.       Berpikir kebalikan dari seorang penulis.
Seorang penulis menambah kata agar tulisannya  jelas dibaca. Seorang pembaca harus mengambil prinsip kebalikannya : tidak usah membaca lagi  bila ide tulisan sudah jelas.
Seorang penulis mempunyai ide, lalu dia menghidangkan ide kepada pembaca dengan menggunakan kata-kata (sama seperti saya saat ini sedang menyusun kata-kata agar pembaca lebih mengerti ide saya). Sebuah tulisan adalah  rangkaian kata – kata yang menjadi “kendaraan” si penulis menyajikan ide. Nah, bila ide sudah kita mengerti, maka kita tidak memerlukan “kendaraan’ itu lagi.  Kita tidak perlu membaca semua kata yang dihidangkan oleh penulis.

3.       Kita adalah  tuan atas buku yang kita baca. Bukan sebaliknya.
Kita adalah  tuan atas buku yang kita baca. Buku adalah hamba kita. Kitalah yang berkuasa menentukan (pada saat membaca sebuah buku) :  apa yang kita mau baca, halaman berapa, kapan kita baca, bagian mana yang kita mau lihat, atau bagian mana yang tidak dilihat sama sekali dst. Buku tsb tidak bisa protes bukan?
Namun banyak orang “takut” dengan buku. Apa lagi buku yang tebal-tebal. Seolah – olah buku itu “tuan” mereka yang sedang menghakimi dan menuntut untuk dibaca. Pernah  merasakan hal ini? Ada perasaan frustrasi yang hinggap karena tidak sanggup membaca buku sampai selesai.   
Umumnya rasa “takut” muncul karena kita tidak tahu prinsip atau cara membaca secara  efektif. Begitu anda memahami caranya, anda akan segera mengalahkan buku itu.

Rileks! Buku adalah  hamba yang baik yang melayani kita untuk membuka dunia dan pengetahuan. Dengan mengerti prinsip – prinsip membaca efektif, kita akan mampu menguasainya dan memperlakukan buku sesuai kebutuhan dan kemauan kita. Savvy?

Selasa, 18 September 2012

POLA PIKIR SALAH DALAM MEMBACA

Mengapa kebanyakan orang kurang suka membaca? Atau suka membaca namun membaca dengan cara kurang efektif sehingga kegiatan membaca menjadi kurang menyenangkan.
Hal ini disebabkan oleh pola pikir yang salah yang kita warisi sejak di bangku sekolah, dan melekat kuat sampai sekarang.

1.      Membaca sama dengan menghafal.
Guru  memberikan tes / ulangan. Apa yang kita lakukan agar mendapat nilai bagus? Menghafalkan pelajaran! Walaupun kadang tidak paham. Nilai diberikan berdasarkan hafalan bukan pemahaman. Jadi kita sudah  dididik menghafal sejak kecil. Sampai dewasa, pola pikir yang tertanam: membaca = menghafal.

Yang benar adalah : membaca TIDAK sama dengan menghafal. Tidak perlu menghafalkan seluruh kata yang dihidangkan oleh penulis. Bila kita sudah memahami isinya maka uraian dapat dilewati. Kita dapat menceritakan kembali pemahaman kita dengan kata-kata sendiri ; tidak perlu persis sama dengan yang tertera di buku.  

2.      Membaca perlu usaha keras dan tidak menyenangkan.  
Banyak orang yang beranggapan membaca adalah kegiatan yang perlu usaha keras dan jauh dari menyenangkan. Ini berkaitan dengan kesalahan yang pertama di atas.  Memang, menghafal kegiatan yang menyengsarakan. Tapi ingat  membaca  bukan menghafal, jadi membaca bukanlah penderitaan.  

3.      Mulai dari kata pertama. Kita diajarkan membaca oleh guru dengan mulai dari kata pertama pada bab pertama sampai kata terakhir pada bab terakhir. Bila sudah membaca seluruh kata, barulah kita “selesai” membaca. Kalau belum mencapai bab terakhir maka dianggap belum selesai membaca. Ini pola pikir yang salah.   

Yang benar adalah: tidak semua kata yang tercetak dalam buku harus dibaca. Tujuan membaca adalah memahami ide penulis bukan menghafalkan uraiannya. Uraian penulis adalah “kendaraan“ untuk menguraikan idenya. Jadi bila ide sudah dimengerti, maka detil uraian dapat dilewati. Tidak perlu kita menghabiskan waktu membaca seluruh uraian. Tidak semua kata yang ditulis oleh penulis berharga dibaca.

Kesimpulan: Saya sudah selesai membaca sebuah buku bila saya sudah memahami ide penulis dalam buku tsb, BUKAN karena sudah selesai membaca semua kata yang disajikan.  Savvy?

Omong2, jadi berapa buku yang sudah anda baca? 

Senin, 16 Agustus 2010

MEMBACA EFEKTIF

Hampir semua anda yang mengakses blog ini dipastikan bisa membaca. Pertanyaannya adalah : seberapa efektif anda membaca?

Tanda tanda orang yg membaca tidak efektif adalah:
- jarang menyelesaikan bahan bacaan yang sudah mulai dibaca
- punya perasaan takut dengan buku
- tendensi malas membaca, karena merasa bahwa membaca itu kegiatan yang butuh energi besar
- suka menunda nunda membaca buku yang harus dibaca.
-membaca secara lambat semua bahan bacaan.
- membaca semua bahan bacaan dengan kecepatan yang sama
Apakah terdapat salah satu tanda pada diri anda?

Melalui blog ini penulis akan menyajikan teknik-teknik dan prinsip-prinsip membaca efektif. Dengan menerapkan teknik dan prinsip yang diajarkan, diharapkan para pembaca akan mampu meningkatkan efektivitas membacanya, yang akan berujung pada kegemaran membaca.

Kegiatan membaca adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Betul!!
Tetapi mengapa orang kadang tidak suka membaca? Salah satu penyebab adalah efekitvitas membaca yang rendah. Sayang sekali bukan, bila kegiatan membaca anda terhambat hanya karena efektivitas membaca yg rendah?

Ikuti terus blog ini. Penulis akan terus menuangkan cara cara membaca yang efektif!

Salam,